Selasa, 11 November 2014

Don't Go, Stay Here - 1

Hujan……
Langit tampak gelap, bahkan air langit pun mulai menyirami bumi yang indah ini. Air dilangit itu entah kenapa hari ini tampak berpacu untuk mencapai bumi.
Deras, sangat deras sekali hujan sore itu. Namun, derasnya hujan sore itu tidak membuat seorang gadis yang dari tadi duduk disebuah kursi itu bergeming. Dia hanya duduk menatap kedua kaki nya dan mengabaikan hujan yang sore itu benar-benar sangat deras. Dengan rambut panjang nya yang tergerai bebas, gadis itu mengenakan dress biru yang membuat nya masih terlihat cantik meskipun hujan telah menghujani pakaian nya. 
48 menit berlalu tanpa bergerak, gadis itu hanya duduk mengabaikan hujan hingga seorang pria yang memakai payung hijau mendatangi gadis itu kemudian memayungi gadis itu dan merelakan tubuh nya sendiri diserang air yang berpacu untuk menuju bumi.
"Kau benar-benar gila. Apa begini caramu untuk membalaskannya?" Pria itu berteriak agar gadis itu mendengar ucapannya. Namun gadis itu tidak menunjukan tanda-tanda apapun. Gadis itu hanya diam tertunduk menatap kedua kaki nya dengan pandangan kosong. 
“Zea..!!” Pria itu memanggil gadis itu. Raut wajah pria itu Nampak berubah. Dia khawatir. Khawatir kepada gadis yang dari tadi hanya duduk terdiam menatap kedua kakinya. 
“Zea..!! Lihat aku. Zea..!!” Pria itu melepaskan payung yang daritadi digunakan nya untuk memayungi gadis itu. “Zea ayo berdiri. Maafkan aku, ayo kita pulang.” Pria itu membantu gadis yang bernama Zea itu untuk berdiri. Tiba-tiba gadis itu menatap tajam kearah pria itu.
“Apa? Maafkan aku? Pulang?” Zea mengucapkan kata-kata yang tadi diucapkan pria itu dengan nada sinis dan tatapan yang tajam.
Tatapan gadis itu membuat pria itu secara tidak langsung mundur beberapa langkah dan melepaskan tangan nya dari bahu gadis itu.
Apa benar ini Zea? Kenapa dia bisa bersikap seperti ini? Apa ucapanku tadi benar-benar dianggapnya serius?
“Zea, maafkan aku. Ucapanku tadi hanya ucapan emosi seorang laki-laki. Kenapa kau menanggapinya serius seperti ini?”
“Kau bilang kalimat itu hanya ucapan emosi? Aku tidak yakin. Kalimat kasar yang kau ucapkan itu bukan hanya sekedar ucapan emosi. Kalimat itu benar-benar kalimat jujur yang keluar dari hatimu. Oky, aku tidak mengenalmu 1 hari saja, aku sudah mengenalmu 2 tahun.”
“Karena kau sudah mengenalku 2 tahun ini, lantas kenapa kau masih belum mengerti apa yang aku inginkan? Apakah aku harus bersikap seperti ini dulu agar kau bisa mengerti?”
“Oky..”
“Apa? Oh jadi sekarang kau sudah mengerti kesalahanmu? Kau menyesal atas apa yang kau lakukan padaku? Apakah dengan dibasahi hujan seperti ini, pikiran mu bisa kembali normal?”
“Aku tidak selingkuh”
“Lantas, foto yang ada di laptop itu? Sms yang kau kirimkan kepada laki-laki itu? Perlakuan mu yang akhir-akhir ini telah berubah. Aku bosan mengulang perkataan itu itu itu dan itu lagi padamu.”
“Aku tidak selingkuh. Benar-benar tidak selingkuh. Kau harus percaya itu. Aku benar-benar tidak melakukannya.”
“Zea, apa salahnya jujur padaku.”
“Aku jujur.” Sorot mata gadis itu yang tadinya tajam telah berubah menjadi sendu. Air mata gadis itu perlahan turun, namun hujan yang deras menyamarkan air mata gadis itu.
“Tapi apa yang aku lihat, tidak seperti apa yang kau ucapkan.” Pria itu mulai melunak.
“Aku benar-benar tidak melakukannya. Oky, percayalah padaku. Aku sudah memikirkannya namun aku tidak menemukan fakta bahwa aku menduakanmu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar