Hujan……
Langit tampak gelap, bahkan air langit pun mulai
menyirami bumi yang indah ini. Air dilangit itu entah kenapa hari ini tampak
berpacu untuk mencapai bumi.
Deras, sangat deras sekali hujan sore itu.
Namun, derasnya hujan sore itu tidak membuat seorang gadis yang dari tadi duduk
disebuah kursi itu bergeming. Dia hanya duduk menatap kedua kaki nya dan
mengabaikan hujan yang sore itu benar-benar sangat deras. Dengan rambut panjang nya yang tergerai bebas, gadis itu mengenakan dress biru yang membuat nya masih terlihat cantik meskipun hujan telah menghujani pakaian nya.
48 menit berlalu tanpa bergerak, gadis itu hanya
duduk mengabaikan hujan hingga seorang pria yang memakai payung hijau
mendatangi gadis itu kemudian memayungi gadis itu dan merelakan tubuh nya
sendiri diserang air yang berpacu untuk menuju bumi.
"Kau benar-benar gila. Apa begini caramu
untuk membalaskannya?" Pria itu berteriak agar gadis itu mendengar
ucapannya. Namun gadis itu tidak menunjukan tanda-tanda apapun. Gadis itu hanya
diam tertunduk menatap kedua kaki nya dengan pandangan kosong.
“Zea..!!” Pria itu memanggil gadis itu. Raut
wajah pria itu Nampak berubah. Dia khawatir. Khawatir kepada gadis yang dari
tadi hanya duduk terdiam menatap kedua kakinya.
“Zea..!! Lihat aku. Zea..!!” Pria itu melepaskan
payung yang daritadi digunakan nya untuk memayungi gadis itu. “Zea ayo berdiri.
Maafkan aku, ayo kita pulang.” Pria itu membantu gadis yang bernama Zea itu
untuk berdiri. Tiba-tiba gadis itu menatap tajam kearah pria itu.
“Apa? Maafkan aku? Pulang?” Zea mengucapkan
kata-kata yang tadi diucapkan pria itu dengan nada sinis dan tatapan yang
tajam.
Tatapan gadis itu membuat pria itu secara tidak
langsung mundur beberapa langkah dan melepaskan tangan nya dari bahu gadis itu.
Apa benar ini Zea? Kenapa
dia bisa bersikap seperti ini? Apa ucapanku tadi benar-benar dianggapnya
serius?
“Zea, maafkan aku. Ucapanku tadi hanya ucapan
emosi seorang laki-laki. Kenapa kau menanggapinya serius seperti ini?”
“Kau bilang kalimat itu hanya ucapan emosi? Aku
tidak yakin. Kalimat kasar yang kau ucapkan itu bukan hanya sekedar ucapan emosi.
Kalimat itu benar-benar kalimat jujur yang keluar dari hatimu. Oky, aku tidak
mengenalmu 1 hari saja, aku sudah mengenalmu 2 tahun.”
“Karena kau sudah mengenalku 2 tahun ini, lantas
kenapa kau masih belum mengerti apa yang aku inginkan? Apakah aku harus bersikap
seperti ini dulu agar kau bisa mengerti?”
“Oky..”
“Apa? Oh jadi sekarang kau sudah mengerti
kesalahanmu? Kau menyesal atas apa yang kau lakukan padaku? Apakah dengan
dibasahi hujan seperti ini, pikiran mu bisa kembali normal?”
“Aku tidak selingkuh”
“Lantas, foto yang ada di laptop itu? Sms yang
kau kirimkan kepada laki-laki itu? Perlakuan mu yang akhir-akhir ini telah
berubah. Aku bosan mengulang perkataan itu itu itu dan itu lagi padamu.”
“Aku tidak selingkuh. Benar-benar tidak
selingkuh. Kau harus percaya itu. Aku benar-benar tidak melakukannya.”
“Zea, apa salahnya jujur padaku.”
“Aku jujur.” Sorot mata gadis itu yang tadinya
tajam telah berubah menjadi sendu. Air mata gadis itu perlahan turun, namun
hujan yang deras menyamarkan air mata gadis itu.
“Tapi apa yang aku lihat, tidak seperti apa yang
kau ucapkan.” Pria itu mulai melunak.
“Aku benar-benar tidak melakukannya. Oky,
percayalah padaku. Aku sudah memikirkannya namun aku tidak menemukan fakta
bahwa aku menduakanmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar